Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan Salsa dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ia menggeliat, lalu beranjak dari ranjang. Hari ini adalah hari Senin, hari di mana ia harus kembali mengenakan seragam dinas berwarna coklat, berdiri di depan kelas, dan menghadapi 30 pasang mata polos yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Ya, Salsa adalah seorang Ibu guru Sekolah Dasar (SD) di sebuah sekolah negeri di pinggiran kota Kamboja. Ia mengajar di kelas 2.
Sejak kecil, mengajar adalah cita-citanya. Ia selalu membayangkan dirinya berada di depan kelas, mengajarkan ilmu, dan membentuk karakter anak-anak. Namun, beberapa tahun belakangan, ada sisi lain dari dirinya yang mulai berkembang. Sisi itu muncul dari sebuah aplikasi bernama TikTok.
Awalnya, Salsa hanya iseng. Ia membuat video joget-joget lucu dengan lagu-lagu yang sedang tren. Video-video itu ia rekam saat ia sedang libur dan memakai pakaian santai. Tak disangka, video-videonya mulai mendapatkan banyak penonton dan like. Salsa merasa senang. Ia merasa dihargai, sesuatu yang jarang ia rasakan di lingkungan kerjanya yang kaku.
Namun, seiring berjalannya waktu, Salsa mulai merasa kecanduan. Ia ingin lebih banyak lagi penonton, lebih banyak lagi like. Tanpa sadar, ia mulai mengunggah video dengan pakaian yang lebih terbuka dan gerakan yang lebih sensual. Keterampilan menari yang ia pelajari sejak remaja, yang selama ini terpendam, kini ia pamerkan secara terbuka di dunia maya. Banyak komentar pujian yang membanjiri video-videonya, memanggilnya “Tante Seksi” atau “Ibu Guru Idaman”. Komentar-komentar itu, meski terkadang vulgar, membuat adrenalinnya terpacu. Ia merasa hidup.
Di sekolah, Salsa adalah sosok yang sangat berbeda. Ia tampil sopan dengan rok panjang di bawah lutut, kemeja rapi, dan kerudung sederhana. Murid-muridnya sangat mencintainya. Mereka memanggilnya “Ibu Salsa” dengan penuh hormat dan kasih sayang. Mereka tak pernah tahu, bahwa di balik seragam guru yang sederhana itu, ada Salsa yang lain, yang menghabiskan waktu luangnya di depan kamera, berjoget dengan pakaian seksi.
Suatu sore, saat Salsa sedang asyik membuat video baru di kamarnya, tiba-tiba ada notifikasi dari TikTok. Ada fitur baru: Live Streaming. Rasa ingin tahu menguasai dirinya. Ia berpikir, bagaimana rasanya berinteraksi langsung dengan para pengikutnya? Malam itu, saat anak-anaknya sudah tidur dan suaminya masih lembur di kantor, Salsa memutuskan untuk mencoba.
Ia mengenakan crop top ketat dan celana pendek yang menampilkan lekuk tubuhnya. Ia menyalakan kamera, dan tak sampai semenit, puluhan penonton mulai bergabung. “Halo semuanya,” sapa Salsa dengan canggung. “Wih, Ibu Guru Salsa live!” “Seksi banget malam ini, Bu!” “Joget, dong, Bu!” Komentar-komentar itu membanjiri layar. Jantung Salsa berdebar kencang. Ia merasa malu, tetapi juga terangsang oleh perhatian itu. Ia mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang ia putar. Gerakannya semakin berani, semakin sensual, seolah ia sedang menari di sebuah klub malam, bukan di kamarnya sendiri. Para penonton semakin gila. Mereka mengirimkan hadiah virtual yang membuat saldo di akunnya terus bertambah. Salsa takjub. Dalam satu jam, ia bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada gajinya dalam seminggu sebagai guru.
Live streaming menjadi rutinitas barunya. Ia melakukannya setiap malam, setelah anak-anaknya tidur. Kadang ia bahkan melakukannya saat jam istirahat di sekolah. Ia akan pergi ke ruang guru yang kosong, mengunci pintu, dan melakukan live streaming singkat. Ia tidak peduli jika rekan-rekan gurunya menatapnya dengan aneh, atau jika ada murid yang tak sengaja melihatnya di lobi.
Namun, semua kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Kehidupan ganda yang ia jalani mulai menuntut korban. Ia sering kelelahan karena begadang. Di sekolah, ia menjadi kurang fokus. Ia sering terlihat mengantuk dan lesu. Murid-muridnya yang ceria mulai bertanya-tanya. “Ibu Salsa sakit?” “Ibu Salsa kok kelihatan sedih?”
Suatu hari, kepala sekolah memanggilnya ke ruangannya. Di sana, sudah menunggu ketua komite sekolah, beberapa orang tua murid, dan juga suaminya. Wajah mereka terlihat tegang. Jantung Salsa berdegup kencang. Ia tahu, saatnya telah tiba.
Kepala sekolah meletakkan ponselnya di atas meja. Di layar, terlihat cuplikan video Salsa yang sedang menari seksi di TikTok. Ada juga tangkapan layar dari live streaming-nya yang menunjukkan pakaiannya yang terbuka. Salsa menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa berkata apa-apa. “Ibu Salsa, kami tidak bisa membiarkan ini berlanjut,” kata kepala sekolah dengan nada kecewa. “Bagaimana kami bisa mempercayakan anak-anak kami kepada guru yang tampil seperti ini?”
Salsa dipecat. Ia kembali ke rumah dengan hati hancur. Suaminya juga kecewa dan marah. Anak-anaknya yang masih kecil tidak mengerti apa-apa, tetapi mereka bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah. Salsa kehilangan segalanya. Karir yang ia impikan sejak kecil, harga diri, dan kebahagiaan keluarganya.
Malam itu, Salsa duduk di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang hampa. Wanita yang kehilangan dirinya sendiri di dunia maya. Dunia yang awalnya ia kira bisa memberikan kebahagiaan, ternyata hanya memberikannya ilusi. Salsa menangis. Ia menangis bukan karena dipecat, tetapi karena ia telah mengkhianati dirinya sendiri. Ia telah mengkhianati mimpi-mimpinya, murid-muridnya, dan keluarganya.
Kisah Salsa adalah sebuah pengingat bahwa tidak semua yang berkilauan adalah emas. Di balik popularitas dan pujian di dunia maya, sering kali ada harga yang harus dibayar. Harga itu bisa berupa kehilangan identitas, harga diri, dan hubungan dengan orang-orang terkasih. Salsa kini harus belajar kembali, merangkak dari nol, dan menemukan kembali kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan semu yang ditawarkan oleh dunia maya.









